MPN. Indramayu .Revitalisasi tambak di Kabupaten Indramayu kembali digaungkan sebagai jalan menuju kedaulatan ekonomi pesisir. Namun di tengah optimisme itu, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah program ini benar-benar akan mengubah nasib petambak, atau kembali menjadi proyek ambisius yang berhenti di atas kertas?
Ketua PWRI Jaya, Soni Syahroni, memilih bersikap tegas. Ia mendukung penuh revitalisasi, tetapi sekaligus mengingatkan agar program ini tidak terjebak dalam pola lama—besar di perencanaan, lemah dalam pelaksanaan.
“Kalau hanya bicara angka dan luas lahan, kita sudah sering mendengar. Yang dibutuhkan sekarang adalah eksekusi yang nyata dan berpihak pada petambak,” ujarnya.
Indramayu bukan wilayah tanpa potensi. Ribuan hektare tambak terbentang di pesisir utara, namun sebagian besar terjebak dalam siklus klasik: produktivitas rendah, biaya tinggi, dan kerentanan terhadap kerusakan lingkungan. Revitalisasi seharusnya menjadi titik balik. Tetapi tanpa perubahan sistemik, modernisasi hanya akan menjadi jargon.
Soni menyoroti persoalan mendasar yang kerap diabaikan: kepastian akses lahan, kualitas air yang terus menurun, serta ketimpangan kapasitas antara petambak kecil dan investor besar. Tanpa penyelesaian isu-isu ini, revitalisasi berisiko justru memperlebar kesenjangan.
“Jangan sampai tambak yang direvitalisasi justru dikuasai segelintir pihak. Kedaulatan ekonomi itu berarti rakyat menjadi pelaku utama, bukan penonton,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya transparansi dan pengawasan. Proyek berskala besar seperti ini, menurutnya, rawan menjadi ladang kepentingan jika tidak dikawal secara terbuka. Keterlibatan masyarakat lokal tidak boleh berhenti pada tahap sosialisasi, tetapi harus masuk dalam pengambilan keputusan.
Di sisi lain, pendekatan teknokratis yang diusung pemerintah—melalui modernisasi tambak dan pengenalan komoditas baru—perlu diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia. Tanpa pelatihan yang serius dan berkelanjutan, teknologi hanya akan menjadi beban baru bagi petambak.
Revitalisasi tambak Indramayu memang menyimpan potensi besar: membuka lapangan kerja, meningkatkan produksi, dan menggerakkan ekonomi pesisir. Namun potensi itu hanya akan menjadi kenyataan jika program ini mampu keluar dari jebakan proyek jangka pendek.
“Ini bukan soal membangun tambak, tapi membangun sistem ekonomi yang adil dan berkelanjutan. Kalau itu gagal, maka yang terjadi hanyalah pengulangan masalah lama dengan wajah baru,” kata Soni.
Di tengah riuhnya narasi pembangunan, revitalisasi tambak kini diuji: apakah ia akan menjadi tonggak kedaulatan ekonomi, atau sekadar catatan lain dalam daftar panjang proyek yang kehilangan arah. (Pyan











