MPN.IMDRAMAYU . Peringatan hari lahir bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Bagi keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU), momentum harlah adalah ruang bermuhasabah: menakar sejauh mana cita-cita para muassis telah diteruskan, sekaligus merumuskan langkah untuk menjawab tantangan masa depan umat dan bangsa.
Sejak berdiri pada 1926, NU lahir dari kegelisahan para ulama dalam menjaga ajaran Islam yang moderat, ramah terhadap tradisi, dan berpijak pada prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah. Spirit itulah yang menjadikan NU tumbuh sebagai kekuatan sosial-keagamaan yang tidak hanya menjaga nilai keislaman, tetapi juga meneguhkan komitmen kebangsaan.
Di tengah arus perubahan yang begitu cepat—mulai dari perkembangan teknologi, pergeseran sosial, hingga dinamika pemikiran keagamaan—peran NU justru semakin relevan. Organisasi ini hadir sebagai penyejuk di tengah polarisasi, perekat persatuan di tengah perbedaan, serta penjaga keseimbangan antara agama dan negara.
Refleksi harlah mengajak warga Nahdliyin untuk kembali bertanya pada diri sendiri: apakah ukhuwah telah benar-benar dirawat? Sudahkah nilai tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil) terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi cermin untuk memastikan bahwa kebesaran NU bukan sekadar angka statistik jamaah, melainkan kualitas pengabdian.

Kekuatan NU sejatinya terletak pada keikhlasan dalam berkhidmah. Dari pesantren yang mendidik generasi berilmu, majelis taklim yang menyejukkan umat, hingga berbagai layanan sosial yang menjangkau masyarakat kecil—semuanya adalah manifestasi dakwah yang menebar rahmat.
Ke depan, tantangan tidak semakin ringan. NU memerlukan kader yang tidak hanya berilmu dan berakhlak, tetapi juga adaptif menghadapi zaman, tanpa tercerabut dari manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah. Regenerasi menjadi keniscayaan agar estafet perjuangan tetap berjalan kokoh.
Pada akhirnya, refleksi harlah semestinya melahirkan tiga tekad bersama: meneguhkan khidmah tanpa pamrih, memperkuat persatuan di tengah perbedaan, dan menyiapkan generasi penerus yang siap melanjutkan perjuangan. Dengan demikian, harlah bukan hanya peringatan sejarah, melainkan energi spiritual untuk memperkokoh langkah dalam beribadah, berkhidmah, dan menjaga harmoni negeri. ( tg








