Prasasti atau manuskrip kuno Aria Wiralodra diperkirakan berasal dari abad ke-16. Naskah ini merupakan peninggalan bersejarah yang ditulis di atas kulit menjangan dengan aksara Jawa Kawi.
Berikut penjelasan maknanya secara lebih dalam dan kontekstual:
1. “Darma ayu mulih harja” (Indramayu kembali sejahtera)
Ini adalah inti pesan. “Mulih harja” berarti kembali ke keadaan makmur dan tenteram. Dalam konteks babad, ini bisa dibaca sebagai harapan atas wilayah baru yang dibuka agar menjadi pusat kehidupan yang baik, bukan sekadar tempat tinggal biasa.
2. Tanda-tanda alam (simbolis, bukan literal)
“Taksaka nyabrang kali Cimanuk” → ular besar menyeberangi Sungai Cimanuk melambangkan perubahan besar atau perpindahan kekuatan.
“Sumur kajayaan deres mili” → sumber air yang terus mengalir adalah simbol rezeki yang tidak putus.
“Dlupak murub tanpa patra” → api menyala tanpa minyak menggambarkan energi kehidupan/kemakmuran yang berjalan dengan sendirinya.
Semua ini adalah bahasa simbolik khas babad Jawa, bukan kejadian harfiah.
3. Harmoni sosial dan politik
“Somahan lawan prajurit” → rakyat sipil dan militer bersatu
“Rowang lawan priagung” → orang biasa dan bangsawan selaras
“Samya tentram atine” → semua hidup dengan hati yang tenteram
Ini menunjukkan bahwa kemakmuran tidak hanya soal materi, tapi juga keseimbangan antara kekuasaan dan rakyat.
4. “Ing sekehing negara pada raharja”
Artinya bukan hanya satu wilayah kecil, tapi seluruh negeri ikut merasakan kesejahteraan. Ini memperlihatkan cita-cita kepemimpinan yang luas, bukan lokal semata.
Kutipan ini adalah narasi ideal tentang negara yang makmur, stabil, dan harmonis, yang dijadikan landasan moral dalam cerita pendirian Indramayu. Ia berfungsi sebagai semacam “visi peradaban” yang diharapkan terwujud oleh kepemimpinan Aria Wiralodra. ( Red












