Syair Ronggo Warsito; Zaman Edan yang Tak Pernah Usai

KopiBangbul82 Views
Read Time:1 Minute, 39 Second

Syair “Zaman Edan”
Amenangi zaman edan,
ewuh aya ing pambudi,
milu edan nora tahan,
yen tan milu anglakoni,
boya keduman melik,
kaliren wekasanipun,
dilalah karsa Allah,
begja-begjane kang lali,
luwih begja kang eling lan waspada.

Artinya (terjemahan bebas)
Menghadapi zaman gila, serba sulit dalam bertindak.
Ikut menjadi gila tidak sampai hati,
Namun jika tidak ikut, tidak akan mendapat bagian (rezeki),
Akhirnya bisa kelaparan.
Tetapi kehendak Tuhan berbeda,
Seberuntung-beruntungnya orang yang lupa,
Masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada.

Makna singkat
Syair ini menekankan:
Dilema moral di zaman kacau
Godaan untuk ikut arus yang salah
Pentingnya tetap sadar (eling) dan hati-hati (waspada)
Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang kian cepat, istilah “Zaman Edan” kembali menemukan relevansinya. Ungkapan yang berasal dari pujangga Jawa abad ke-19, Ronggowarsito, ini seolah menjadi cermin bagi kondisi masyarakat hari ini.

Dalam karyanya Serat Kalatidha, Ronggowarsito menggambarkan sebuah zaman ketika nilai-nilai moral mengalami pembalikan. Kejujuran tak lagi menjadi jalan utama menuju keberhasilan, sementara kelicikan justru kerap mendapat tempat. Dalam situasi seperti ini, individu dihadapkan pada dilema klasik: mengikuti arus atau tetap bertahan pada prinsip.
Fenomena tersebut bukan sekadar romantisme masa lalu. Kita menyaksikannya dalam berbagai bentuk modern—dari penyebaran informasi yang tidak akurat hingga praktik-praktik yang mengaburkan batas antara benar dan salah. Dalam ruang publik, kebenaran sering kali harus bersaing dengan kepentingan.

Namun, yang membuat pemikiran Ronggowarsito tetap hidup bukan hanya kritiknya terhadap zaman, melainkan sikap yang ia tawarkan. Ia tidak mendorong keputusasaan, melainkan kewarasan. Dalam ungkapannya yang terkenal, ia mengingatkan bahwa meskipun tidak “ikut gila” berarti tertinggal, mengikuti kegilaan justru mengorbankan nurani.
Di sinilah letak kekuatan pesan tersebut: pada pilihan sadar untuk tetap berpijak pada nilai, meskipun dunia di sekitar bergerak ke arah sebaliknya.

“Zaman Edan” pada akhirnya bukan sekadar deskripsi tentang kondisi sosial, melainkan refleksi tentang manusia itu sendiri. Sebab dalam setiap zaman, selalu ada ruang untuk memilih—antara arus dan arah.
Dan mungkin, justru di tengah kegilaan itulah, kewarasan menjadi bentuk keberanian yang paling sunyi.

Penulis : D.Buldani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *