MPN. Indramayu — Wajah kawasan kuliner di bantaran Sungai Cimanuk, Indramayu, kini menuai kecaman keras. Tempat yang dulu dikenal sebagai ruang santai keluarga dan pusat jajanan rakyat, diduga telah berubah arah menjadi lokasi hiburan malam bernuansa remang-remang yang memicu keresahan publik.
Perubahan itu bukan sekadar isu. Sejumlah warga menyebut, suasana kawasan mulai “bergeser” ketika malam semakin larut. Lampu redup, dentuman musik keras, hingga aktivitas pengunjung yang dinilai tak lagi wajar untuk ruang kuliner terbuka, menjadi pemandangan yang kian biasa.

“Ini sudah jauh dari konsep awal. Bukan lagi tempat makan, tapi lebih ke arah hiburan malam terselubung,” ungkap seorang warga yang identitasnya dirahasiakan dengan nada geram.
Sorotan tajam tak hanya mengarah pada pelaku usaha, tetapi juga pada lemahnya pengawasan. Pasalnya, aktivitas di sejumlah titik disebut berlangsung hingga dini hari—melampaui batas kewajaran untuk kawasan kuliner—tanpa terlihat adanya penindakan berarti dari pihak berwenang.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: di mana peran pengawasan? Apakah perubahan ini luput dari perhatian, atau justru dibiarkan?
Lebih jauh, fenomena ini dinilai berpotensi merusak citra Cimanuk sebagai ikon kuliner di Indramayu. Pelaku UMKM yang tetap konsisten menjual makanan dan minuman secara wajar terancam ikut terdampak oleh stigma negatif yang kian melekat.
“Kalau dibiarkan, orang akan cap semua tempat di sini sama. Yang jualan normal bisa ikut sepi,” keluh pedagang setempat yang tak mau disebutkan namanya.
Tak hanya soal citra, warga juga menyoroti potensi gangguan ketertiban umum. Aktivitas hingga larut malam, keramaian yang tak terkontrol, hingga dugaan praktik terselubung menjadi kekhawatiran yang terus menguat.
Ironisnya, hingga kini belum ada pernyataan resmi maupun langkah konkret dari instansi terkait untuk menjelaskan atau menertibkan kondisi tersebut. Kekosongan respons ini justru memperkuat kesan bahwa situasi sedang tidak dikendalikan dengan serius.
Sejumlah elemen masyarakat mendesak agar pemerintah daerah dan aparat segera turun tangan. Penertiban, evaluasi izin usaha, hingga penegakan aturan dinilai mendesak dilakukan sebelum kawasan ini benar-benar kehilangan jati dirinya.
Jika terus dibiarkan, bukan tak mungkin kawasan kuliner Cimanuk akan berubah total—dari ruang publik yang ramah keluarga menjadi titik rawan baru yang sarat kontroversi.
Kini publik menanti, apakah akan ada tindakan tegas, atau pembiaran ini akan terus berlanjut? ( Amex








