“Penghargaan TOP BUMD 2026 Dipertanyakan: Iwan Hendrawan Sebut Ada Jurang Lebar antara Seremoni Simbolik dan Realitas ”

mpnTERKINI199 Views
Read Time:1 Minute, 22 Second

MPN . Di tengah sorotan terhadap penghargaan yang diraih Lucky Hakim dalam TOP BUMD Awards 2026, kritik terhadap substansi capaian tersebut kembali mengemuka.

Iwan Hendrawan menilai, ada dua hal mendasar yang perlu menjadi perhatian publik sebelum menempatkan penghargaan tersebut sebagai indikator keberhasilan tata kelola BUMD di daerah.

Pertama, ia mempertanyakan kredibilitas lembaga penyelenggara penghargaan, termasuk metodologi penilaian yang digunakan. Menurutnya, transparansi menjadi kunci untuk memastikan apakah penghargaan benar-benar berbasis kinerja objektif atau lebih bersifat seremonial.
“Kita perlu tahu siapa yang menilai, apa indikatornya, dan sejauh mana independensinya,” ujarnya.

Kedua, Iwan menyoroti aspek dampak ekonomi dari kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), khususnya apakah terdapat peningkatan profit yang signifikan dan berkelanjutan. Ia menilai, indikator keuangan semestinya menjadi ukuran penting dalam menilai keberhasilan pembinaan BUMD oleh kepala daerah.
Dalam konteks tersebut, ia turut menyinggung kinerja Perumdam Tirta Darma Ayu dan BWI yang menurutnya tidak bisa hanya dilihat dari capaian administratif, tetapi harus diukur dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat dan sampai saat ini masih banyak menyisakan persoalan dan  pertanyaan publik.

“Yang paling penting adalah kemanfaatannya. Apakah masyarakat benar-benar merasakan peningkatan layanan, atau hanya melihat angka dan penghargaan di atas kertas,” katanya.

Pernyataan ini memperkuat kritik bahwa jarak antara pengakuan formal dan realitas pelayanan publik masih menjadi isu klasik dalam pengelolaan BUMD. Tanpa transparansi indikator dan dampak yang terukur, penghargaan berpotensi dipersepsikan sebagai simbol yang tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi lapangan.

Pada akhirnya, publik menanti jawaban yang lebih konkret: apakah penghargaan tersebut benar-benar lahir dari kinerja yang meningkat, atau sekadar pengakuan formal yang belum sepenuhnya menyentuh realitas masyarakat sehingga terdapat jurang pemisah penghargaan ini antara seremonial simbolik dan realitas menimbukan banyak pertanyaan yang mesti terungkap. ( Red

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *