Miris! Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reyot, Rano di Indramayu Tak Lagi Terima Bansos Gegara Masuk Desil 10

mpnTERPOPULER514 Views
Read Time:2 Minute, 35 Second

‎
‎mpn.co.id INDRAMAYU,- Di tengah keterbatasan hidup yang menghimpit, Rano alias Genjor (36), warga Desa Sukaslamet, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa bantuan sosial (bansos). Ironisnya, status Desil 10 yang melekat pada dirinya disebut tak sesuai dengan kondisi kehidupan yang sebenarnya.
‎
‎Hidup sebatang kara di sebuah rumah sederhana yang jauh dari kata layak, Rano kini hanya bisa mengandalkan bantuan keluarga dan uluran tangan tetangga untuk memenuhi kebutuhan pangan. Beras yang seharusnya menjadi kebutuhan pokok sehari-hari pun tak selalu tersedia.
‎
‎Rano tinggal di rumah berukuran sekitar 5 x 6 meter di RT 13 RW 04 Desa Sukaslamet. Bangunan tersebut berdinding anyaman bambu yang telah lapuk dan berlubang di sejumlah bagian. Lantainya masih berupa tanah, sementara sebagian permukaannya hanya dilapisi plastik usang.
‎

‎Kondisi tempat tinggal itu menggambarkan betapa terbatasnya kehidupan yang dijalani Rano. Di tengah keadaan tersebut, ia mengaku sudah lama tidak lagi menerima bantuan sosial yang sebelumnya diharapkan dapat meringankan beban hidupnya.
‎
‎“ Sudah menanyakan ke petugas sensus yang mendata malah di jawab data desil itu dari situnya, padahal petugas sensus yang turun di lapangan malah desilnya 1-4,”ungkap Rano kepada mpn.co.id, Senin (19/10/2026).
‎
‎Bagi Rano, bantuan beras bukan hanya tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi tempat tinggal yang memprihatinkan, bantuan tersebut menjadi salah satu harapan agar dirinya tetap bisa bertahan.
‎
‎Rano berharap pemerintah desa dan dinas terkait turun tangan untuk memeriksa kembali status desil yang tercatat atas namanya. Ia ingin kondisi kehidupannya dapat dilihat secara langsung agar pendataan bantuan sosial sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
‎
‎Persoalan ini menjadi sorotan karena status kesejahteraan dalam data penerima bantuan dapat berpengaruh terhadap akses seseorang terhadap sejumlah program bantuan sosial. Karena itu, ketepatan data menjadi hal penting agar warga yang membutuhkan tidak luput dari perhatian.
‎
‎Seorang warga Desa Sukaslamet, Eko membenarkan bahwa Rano tidak lagi menerima bantuan sosial. Menurut Haryanto, kondisi tersebut patut menjadi perhatian karena kehidupan Rano dinilai tidak mencerminkan status Desil 10 yang tercatat.
‎
‎Ia menyebut Rano seharusnya masuk dalam kelompok Desil 1–4 berdasarkan kondisi yang diketahuinya. Namun, perbedaan antara kondisi di lapangan dan status dalam pendataan tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut oleh pihak berwenang.
‎
‎Menurut Eko, status Desil 10 itu tidak hanya berdampak pada bantuan beras. Namun, penjelasan lebih lanjut mengenai jenis bantuan lain yang terdampak masih diperlukan.
‎
‎Kasus yang dialami Rano menjadi pengingat pentingnya pemutakhiran dan verifikasi data kesejahteraan masyarakat. Data yang tidak sesuai dengan kondisi faktual berpotensi membuat warga yang membutuhkan kesulitan mengakses program bantuan.
‎
‎Pemerintah desa bersama dinas terkait diharapkan melakukan pengecekan langsung terhadap kondisi tempat tinggal, keadaan ekonomi, serta data kesejahteraan Rano. Dengan begitu, status desilnya dapat ditinjau berdasarkan hasil verifikasi yang objektif.
‎
‎Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan dari pihak pemerintah desa maupun dinas terkait mengenai penyebab Rano tercatat dalam Desil 10 dan langkah yang akan ditempuh untuk menindaklanjuti persoalan tersebut.
‎
‎Di balik dinding bambu yang lapuk dan lantai tanah rumahnya, Rano masih berharap ada perhatian dari pemerintah. Baginya, persoalan ini bukan semata-mata soal status dalam data, melainkan tentang kesempatan mendapatkan bantuan yang sesuai dengan kondisi hidupnya.
‎
‎Penulis
‎(Jojo Sutrisno)
‎

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *