Menafsir Ulang Ramalan Ranggawarsita di Tengah Zaman Modern

KopiBangbul64 Views
Read Time:1 Minute, 12 Second

 

Ramalan sering kali dipahami sebagai upaya menebak masa depan. Namun, dalam tradisi Jawa, ramalan kerap menjadi cara halus untuk menyampaikan kritik sosial. Hal ini tampak jelas dalam bait Serat Joko Lodhang karya Ranggawarsita yang menyebut “kreta tanpa jaran”, “tanah kalungan wesi”, hingga “prau mlaku ing awang-awang”.

Banyak orang tergoda untuk melihatnya sebagai bukti kecanggihan nalar masa lalu dalam meramalkan teknologi modern. Mobil, rel kereta api, dan pesawat terbang dianggap sebagai pembenaran dari bait tersebut. Tetapi, apakah benar inti pesannya sesederhana itu?

Jika dicermati lebih dalam, syair tersebut justru berbicara tentang keguncangan menghadapi perubahan. Modernitas tidak hanya mengubah alat transportasi, tetapi juga cara manusia berpikir, berinteraksi, dan memaknai hidup. Dalam perubahan yang begitu cepat, manusia kerap kehilangan pijakan nilai.

Di sinilah relevansi Ranggawarsita terasa kuat. Ia tidak sekadar menggambarkan masa depan, melainkan mengingatkan bahwa perubahan zaman selalu membawa konsekuensi moral. Ketika manusia terlalu terpukau pada kemajuan, ada risiko melupakan kebijaksanaan yang menjadi fondasi kehidupan.

Hari ini, kita hidup di era yang bahkan melampaui bayangan tersebut. Teknologi digital, kecerdasan buatan, dan konektivitas global telah mengubah dunia secara radikal. Namun, pertanyaan mendasarnya tetap sama: apakah manusia semakin bijak, atau justru semakin tersesat dalam kemajuan yang diciptakannya sendiri?

Maka, membaca kembali karya Ranggawarsita bukanlah soal mencari pembenaran ramalan, melainkan refleksi diri. Di tengah derasnya perubahan, yang dibutuhkan bukan sekadar kemampuan beradaptasi, tetapi juga kesadaran untuk tetap “eling lan waspada”—ingat dan waspada—agar tidak kehilangan arah dalam perjalanan zaman.

Penulis :

D.buldani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *