Aspirasi Ternodai Demo FPI Batal Total, Publik Cibir Habis-habisan: “Belum Perang Sudah Kibarkan Bendera Putih!”

Read Time:1 Minute, 45 Second

 

MPN.Indramayu – Rencana aksi besar Forum Peduli Indramayu (FPI) ke Pendopo Indramayu, Kamis pagi (12/2), mendadak batal. Bukannya menuai simpati, keputusan itu justru jadi bahan olok-olok publik. Media sosial meledak. Sindiran berseliweran. Nyinyiran tak terbendung.
Surat pembatalan aksi yang beredar sejak Rabu malam langsung jadi amunisi warganet.

“Tayamum lagi,” tulis akun Gunawan di X, seolah menyindir FPI yang dinilai berulang kali gagal mengeksekusi rencana.

Akun Sarjo lebih pedas. “Nggak ada jadwal ulangnya? Tanggal 33 aja sekalian biar aman!” tulisnya, mempertanyakan keseriusan aksi yang tak jelas kapan digelar.

Di grup WhatsApp jurnalis, sindiran makin brutal. “Dinae wis di booking, lokasie ora oli tempat. Ora keduman dina keburu di gondol Salman kabeh.” Kalimat satir itu menyebar cepat, menyiratkan dugaan bahwa FPI kalah momentum sebelum turun gelanggang.

Lebih panas lagi, akun Irsad menulis, “Rencana aksi gagal karena menyimpang dari kesepakatan awal. Banyak penumpang gelap?” Cuitan itu memantik spekulasi liar soal retaknya soliditas internal FPI.

Ironisnya, Ahmad Nur Irsyad yang tercatat sebagai Koordinator Lapangan (Korlap) dalam surat izin unjuk rasa ke Polres Indramayu justru mengaku tak tahu-menahu soal pembatalan.

“Emang demo FPI gagal? Saya nggak dikasih tahu,” ujarnya kaget.

Pernyataan itu bak bensin disiram ke api. Publik makin bertanya: ini gerakan serius atau sekadar gertakan?
Di sisi lain, Koordinator Umum FPI, Masdi, berdalih pembatalan dilakukan demi menghormati pelantikan Kuwu terpilih di Pendopo.

“Ini bentuk kepedulian kami kepada rakyat yang sedang euforia,” katanya.

Namun alasan itu tak sepenuhnya meredam cibiran. Sebab sebelumnya FPI sesumbar bahwa persiapan aksi sudah matang—spanduk siap, banner terpasang, massa siap turun.

Kini publik melihat kontras: persiapan disebut matang, tapi eksekusi urung. Tuntutan lantang, tapi aksi tertunda.
FPI tetap bersikeras akan turun dengan satu tuntutan: mencopot Staf Khusus (Stafsus) Bupati Indramayu, Salman Al-Farisi.

“Tuntutan kami jelas, copot Salman. Sudah bikin gaduh,” tegas Asmawi Day.

Namun di ruang publik, narasi sudah terlanjur bergeser. Bagi sebagian warganet, pembatalan ini dianggap sebagai langkah mundur sebelum bertempur. Bahkan ada yang menyebut, “Belum perang sudah kibarkan bendera putih.”

Polemik belum padam. Aksi belum digelar. Tapi satu hal sudah pasti: panggung opini publik kini lebih panas dari rencana demonya sendiri. (Amx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *