SEJARAH BALONGAN ;Dari Sasakala Nyi Wana Kersa hingga Menjadi Kawasan Energi Nasional

mpnSAPA DESA77 Views
Read Time:2 Minute, 27 Second

 

MPN. BALONGAN, INDRAMAYU — Sejarah Balongan tidak hanya berkaitan dengan kilang Pertamina, tetapi juga mencakup sasakala, pemerintahan desa, kehidupan petani dan nelayan, serta perubahan sosial-ekonomi selama puluhan tahun.

Namun, sumber sejarah Balongan perlu dibedakan antara tradisi lisan, sejarah lokal, penelitian akademik, dan dokumen resmi.

1. Sasakala Nyi Wana Kersa

Menurut Pemerintah Desa Balongan, asal-usul nama Balongan berkaitan dengan Nyi Wana Kersa, atau Nyi Tenajar.

Dalam cerita tersebut, setelah Raden Lemaju meninggal akibat konflik dengan penguasa Dermayu, Nyi Wana Kersa melarikan diri sambil membawa kepala suaminya. Ia bersembunyi di sebuah balong, atau kolam, yang kemudian dipercaya menjadi asal nama Balongan.

Kisah ini juga menghubungkan perjalanan Nyi Wana Kersa dengan beberapa wilayah sekitar, seperti Tegalurung, Tegalsembadra, Sukaurip, Sudimampir dan Tugu.

Kisah tersebut dikaitkan dengan buku Sejarah Indramayu karya H.A. Dasuki dkk. Namun, cerita Nyi Wana Kersa sebaiknya dipahami sebagai sasakala atau legenda lokal, bukan fakta sejarah yang telah terbukti secara arkeologis.

2. Perkembangan pemerintahan desa

Sumber desa mencatat sejumlah pemimpin Balongan, antara lain Ki Rema, Moh. Salim, Ki Wasa, Saju, M.H. Takir, M. Khamim, Syatori, H. Muhari, Suwarjo, dan Radi bin Tjasmad. A.kholik

Catatan ini menunjukkan kesinambungan pemerintahan lokal sejak sekitar 1930-an hingga masa kini.

3. Balongan sebelum industri

Sebelum menjadi kawasan kilang, Balongan merupakan wilayah agraris dan pesisir. Penelitian UPI menggambarkan masyarakatnya bergantung pada pertanian dan perikanan.

Letaknya di pesisir Laut Utara Jawa mendukung kehidupan nelayan, sementara kondisi tanah menunjang pertanian. Identitas awal Balongan adalah masyarakat desa yang hidup dari tanah dan laut.

4. Masuknya industri minyak

Menurut penelitian UPI, penggalian sumur minyak mulai dilakukan sekitar 1970. Perkembangan ini mengubah kehidupan masyarakat dan mendorong masuknya industri Pertamina.

Perubahan terlihat pada mata pencaharian, pendidikan, ekonomi dan gaya hidup. Sebagian lahan pertanian berubah menjadi kawasan industri, sementara masyarakat memperoleh peluang ekonomi baru.

5. Berdirinya Kilang Pertamina

RU VI Balongan mulai beroperasi pada 1994. Sejak itu, Balongan berkembang dari wilayah pertanian dan pesisir menjadi bagian penting sistem energi nasional.

Saat ini, RU VI dikelola PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) dengan kapasitas pengolahan sekitar 150 ribu barel per hari. Produknya meliputi Pertalite, Pertamax, Solar, LPG dan Avtur.

6. Dari balong ke kilang

Perjalanan Balongan menunjukkan perubahan besar: dari wilayah dalam sasakala, menjadi desa agraris-pesisir, lalu berkembang menjadi kawasan minyak dan pusat pengolahan energi nasional.

Namun, modernisasi tidak menghapus sejarah masyarakat yang lebih dahulu hidup di sana—masyarakat yang bergantung pada sawah, laut, tambak dan tanah leluhur.

Sejarah Balongan bukan hanya cerita tentang minyak, melainkan tentang perubahan sebuah ruang hidup.

Balongan berkembang dari desa petani dan nelayan menjadi kawasan industri strategis. Karena itu, penting untuk mengingat bukan hanya besarnya kilang, tetapi juga masyarakat yang hidup di sana sebelum industri datang dan bagaimana kehidupan mereka berubah.

SUMBER DATA

Pemerintah Desa Balongan, “Sejarah Desa Balongan”.

H.A. Dasuki dkk., Sejarah Indramayu, sekitar 1977.

Ika Rizkia Nurfalah, Kehidupan Sosial-Ekonomi Petani Balongan Kabupaten Indramayu: Kajian Historis Tahun 1980–2000, Universitas Pendidikan Indonesia.

PT Kilang Pertamina Internasional, data operasi dan kapasitas RU VI Balongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *