MPN. Tubuh mereka boleh kecil, caberawit. Tetapi jangan pernah mengukur nyali dari ukuran badan. Para pesilat muda PS Bhirawa Anoraga terus digenjot dalam latihan keras untuk mempersiapkan diri menghadapi pertandingan.
Di arena latihan, tidak ada istilah manja. Keringat, lelah dan rasa pegal menjadi bagian dari proses. Teknik terus dipertajam, fisik dikuatkan, sementara mental ditempa agar para pesilat muda tidak mudah gentar ketika berhadapan dengan lawan.
Bhirawa Anoraga ingin membuktikan bahwa pesilat muda juga mampu tampil berani. Mereka tidak dipersiapkan sekadar menjadi peserta, tetapi dibentuk agar memiliki mental petarung, disiplin tinggi dan keberanian untuk memberikan kemampuan terbaik di atas gelanggang.
Pelatih Yanto menegaskan, ukuran tubuh bukan ukuran keberanian. Justru dari usia muda, mental bertanding harus mulai dibangun melalui latihan yang keras, terarah dan konsisten.
“Mereka kecil, caberawit, tetapi nyalinya harus besar. Jangan sampai badan kecil lalu mental juga kecil. Kami latih mereka supaya berani, disiplin dan tidak mudah menyerah. Kalau sudah masuk arena, harus siap menghadapi siapa pun dengan kemampuan terbaik,” tegas Yanto.
Menurut Yanto, tidak ada prestasi yang lahir dari latihan setengah hati. Setiap pesilat harus berani menjalani proses dan tidak takut menghadapi tekanan.
“Saya selalu tekankan, jangan takut kalah sebelum bertanding. Yang penting persiapkan diri sebaik mungkin. Latihan serius, dengarkan arahan pelatih dan tunjukkan mental yang kuat ketika berada di arena,” ujarnya.
Kini para pesilat muda Bhirawa Anoraga terus mematangkan persiapan. Setiap sesi latihan menjadi bagian dari pembentukan karakter dan mental mereka untuk menghadapi pertandingan yang sesungguhnya.
Kecil caberawit, tetapi nyali baja! Bhirawa Anoraga terus menggembleng generasi mudanya tanpa lelah. Saat gong pertandingan berbunyi, bukan lagi soal siapa yang paling besar—tetapi siapa yang paling siap, paling berani dan paling mampu mengendalikan diri di arena. ( Slamet






