Jelang Lebaran 1447 H, Tradisi Prepegan di Pasar Wanguk Diserbu Pembeli, Jalanan Dipadati Pengunjung

mpnTERPOPULER222 Views
Read Time:1 Minute, 40 Second


‎mpn.co.id INDRAMAYU, – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, geliat ekonomi rakyat mulai terasa di berbagai daerah. Salah satunya terlihat di Pasar Wanguk, Desa Kedungwungu, Kabupaten Indramayu, yang kembali diramaikan tradisi tahunan prepegan, Jumat (20/3/2026).

Sejak pagi hingga sore hari, kawasan pasar dipadati pengunjung dari berbagai wilayah di Indramayu. Lonjakan aktivitas ini menyebabkan ruas jalan di sepanjang pasar mengalami kepadatan, bahkan kemacetan akibat membludaknya warga yang berburu kebutuhan Lebaran.

Tradisi prepegan sendiri telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Pantai Utara (Pantura) Jawa. Istilah ini merujuk pada momen belanja besar-besaran menjelang Idul Fitri, ketika warga berbondong-bondong memenuhi pasar untuk membeli kebutuhan pokok, pakaian baru, hingga aneka hidangan khas Lebaran.

Secara etimologis, kata prepegan berasal dari bahasa Jawa yang menggambarkan kondisi “penuh” atau “mendesak”. Hal ini sesuai dengan suasana pasar yang sesak oleh pembeli dan pedagang yang saling berinteraksi dalam intensitas tinggi menjelang hari raya.

Di Pasar Wanguk, fenomena tersebut terlihat jelas. Para pedagang memanfaatkan momen ini dengan membuka lapak hingga ke badan jalan. Beragam komoditas dijajakan, mulai dari pakaian, makanan, hingga perlengkapan rumah tangga. Kondisi ini menciptakan suasana pasar yang semarak sekaligus padat.

“Setiap tahun pasti ramai seperti ini, bahkan makin mendekati Lebaran biasanya lebih padat lagi,” ujar indah salah satu pedagang pakaian di lokasi.

Tak hanya warga sekitar, pembeli juga datang dari berbagai kecamatan di Indramayu. Mereka rela berdesakan demi mendapatkan kebutuhan dengan harga yang dinilai lebih terjangkau dibanding pusat perbelanjaan modern.

Secara historis, Pasar Wanguk memang dikenal sebagai salah satu pusat keramaian musiman saat Lebaran. Tradisi prepegan yang terus berlangsung hingga kini menjadi bukti kuatnya budaya lokal yang tetap bertahan di tengah arus modernisasi.

Di sisi lain, kepadatan yang terjadi juga menjadi perhatian, terutama terkait kelancaran arus lalu lintas dan kenyamanan pengunjung. Meski demikian, antusiasme masyarakat tetap tinggi, menjadikan prepegan sebagai momentum yang dinanti setiap tahunnya.

Tradisi ini bukan sekedar aktivitas ekonomi, melainkan juga menjadi simbol kebersamaan dan semangat menyambut hari kemenangan bagi umat Muslim setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan.

Penulis
‎(Jojo Sutrisno)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *