Haul Padepokan Bumi Segandu: Bukan Sekadar Hajatan, Tradisi dan Persaudaraan Warga Krimun Kembali Bergema

mpnTERKINI162 Views
Read Time:1 Minute, 59 Second

 

MPN. INDRAMAYU – Padepokan Bumi Segandu di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, kembali menjadi pusat berkumpulnya warga. Senin malam, 24 Agustus 2026, keluarga Bpk. Anton dan Ibu Asiah (Mama Ayu) menggelar syukuran khitanan dan rasulan massal, sebuah momentum yang bukan sekadar hajatan, tetapi menjadi simbol kuatnya tradisi, doa, dan persaudaraan masyarakat.

Kegiatan yang digelar di Blok Tanggul RT 13/RW 03 tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan. Warga, keluarga, dan kerabat hadir untuk memberikan doa restu sekaligus ikut merasakan kebahagiaan keluarga yang tengah menggelar syukuran.

Di tengah derasnya perubahan zaman, tradisi semacam ini menjadi pesan yang tegas: modernisasi tidak boleh menghapus akar kebersamaan masyarakat. Ketika warga masih mau berkumpul, saling membantu, dan saling mendoakan, maka nilai gotong royong belum kehilangan tempatnya.

Bagi keluarga Bpk. Anton dan Ibu Asiah, kegiatan tersebut merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus ikhtiar memohon keselamatan, kesehatan, dan keberkahan bagi anak-anak yang dikhitan serta seluruh keluarga.

“Ini bukan hanya tentang hajatan keluarga. Kami ingin menjadikan momentum ini sebagai ajang silaturahmi, berkumpul bersama, saling mendoakan dan memperkuat persaudaraan. Kehadiran masyarakat bagi kami merupakan kehormatan dan kebahagiaan,” ungkap pihak keluarga.

Rasulan massal yang dirangkai dengan syukuran khitanan juga memperlihatkan bahwa tradisi masyarakat masih memiliki kekuatan untuk menyatukan berbagai kalangan. Tidak ada sekat ketika warga duduk bersama dalam satu suasana, berbagi kebahagiaan dan memanjatkan doa.

Padepokan Bumi Segandu pun bukan sekadar lokasi kegiatan. Tempat ini menjadi ruang bertemunya masyarakat, tempat tradisi kembali dihidupkan dan nilai persaudaraan diteguhkan.

Momentum tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa tradisi tidak boleh berhenti hanya sebagai cerita masa lalu. Tradisi harus terus dirawat, selama membawa nilai kebaikan, mempererat hubungan sosial, serta menumbuhkan kepedulian antarsesama.

Keluarga penyelenggara berharap doa yang dipanjatkan bersama menjadi pintu keberkahan bagi anak-anak dan keluarga. Mereka juga berharap kegiatan tersebut membawa dampak positif bagi hubungan sosial masyarakat di lingkungan sekitar.

“Semoga anak-anak kami diberikan kesehatan, keselamatan, menjadi anak yang saleh, berbakti kepada orang tua, serta kelak menjadi generasi yang bermanfaat bagi agama, keluarga dan masyarakat,” tuturnya.

Lebih dari sebuah acara syukuran, kegiatan ini menunjukkan bahwa kekuatan masyarakat tidak hanya dibangun dengan pembangunan fisik, tetapi juga dengan persaudaraan, gotong royong dan kepedulian. Ketika nilai-nilai itu tetap hidup, maka tradisi tidak akan mudah tergerus zaman.

Dari Padepokan Bumi Segandu, pesan itu kembali terdengar jelas: jangan biarkan modernitas membuat masyarakat kehilangan jati diri. Rawat tradisi yang baik, kuatkan silaturahmi, dan jadikan kebersamaan sebagai kekuatan warga. ( Slamet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *