mpn.co.id SUBANG, – Ketika aktivitas tambang berhenti dan masa depan para pekerja mulai diselimuti ketidakpastian, seorang pengusaha di kabupaten Subang memilih jalan yang tak biasa. Alih-alih menunggu keputusan pemerintah, ia justru mengubah lahan bekas tambang menjadi sumber kehidupan baru.
Adalah H. Syahroni, pengusaha tambang yang kini bertransformasi menjadi pembudidaya ikan sidat komoditas premium bernilai tinggi hingga pasar internasional. Di lokasi yang dulu dipenuhi alat berat dan debu tambang, kini air kolam berkilau, dipenuhi ribuan sidat yang siap menjadi pusat pembibitan.
Keputusan berani itu diambil saat aktivitas tambang miliknya masih menunggu izin operasional dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Banyak karyawan terancam kehilangan penghasilan, terlebih menjelang Lebaran.
Syahroni tak ingin puluhan kepala keluarga menggantungkan harapan pada ketidakpastian.
“Akibat penutupan tambang, karyawan saya tidak ada penghasilan untuk keluarganya, apalagi mau menjelang Lebaran. Untuk itu saya buka peluang baru dengan mengembangkan budidaya ikan sidat,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026)
Kolam-kolam budidaya dibangun di area bekas galian. Airnya diolah ulang, dipastikan bersih dan stabil. Para pekerja tambang yang sebelumnya mengoperasikan alat berat, kini belajar memberi pakan, mengontrol kualitas air, hingga memantau pertumbuhan sidat.
Sidat bukan ikan biasa. Di Jepang, Eropa hingga Korea, sidat dikenal sebagai makanan bergizi tinggi terutama untuk stamina dan kesehatan.
Harga jualnya pun fantastis, jauh di atas ikan konsumsi biasa. Kandungan proteinnya tinggi, teksturnya lembut, dan permintaan ekspor stabil sepanjang tahun.
Syahroni melihat peluang besar di sana.
Bukan hanya sebagai bisnis, tetapi juga solusi sosial.
Ia melatih para pekerja tambang menjadi pembudidaya. Dari yang awalnya tak mengenal dunia perikanan, kini mereka mampu melakukan perawatan hingga panen nanti.
Perubahan usaha ini membawa dampak langsung bagi para pekerja. Mereka kembali memiliki penghasilan, bahkan beberapa mulai memahami sistem budidaya modern.
Pendapatan memang belum sebesar saat tambang beroperasi, namun cukup menjaga dapur tetap mengepul.
Lebih dari itu, mereka mendapat keahlian baru keterampilan yang berkelanjutan, tidak bergantung pada izin tambang semata.
Langkah H. Syahroni menjadi contoh bagaimana sektor usaha dapat beradaptasi dengan situasi. Lahan yang dulu dianggap rusak, kini menjadi ekosistem produktif.
Di tengah banyaknya PHK di berbagai sektor, kisah ini menjadi pengingat
inovasi dan empati bisa berjalan berdampingan dan keduanya mampu menyelamatkan banyak kehidupan.
Penulis
(Jojo Sutrisno)
Dari Lubang Tambang ke Kolam Harapan: Kisah Pengusaha Subang Sulap Lahan Mati Jadi Sentra Sidat Bernilai Ekspor
Read Time:1 Minute, 46 Second






