MPN. INDRAMAYU – Wajah kota tercoreng. Aksi unjuk rasa yang semestinya menjadi ruang menyuarakan aspirasi justru berubah menjadi aksi liar dan destruktif. Sejumlah oknum pendemo diduga mengamuk dan merusak fasilitas publik di kawasan Alun-Alun Indramayu.
Rekaman video yang viral memperlihatkan fasilitas bermain anak dalam kondisi rusak. Lebih menyayat, terdengar suara warga yang memohon sambil menahan emosi agar perusakan dihentikan.
“Jangan rusak tempat maen ade ommm… jangan dirusak… Indramayu tanah kelahiran ade om… kalian jahat… kalian bukan orang Indramayu…,” terdengar dalam video tersebut.
Bagi masyarakat Indramayu, ini bukan sekadar aksi vandalisme—ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap ruang publik yang dibangun dari uang rakyat dan untuk kepentingan bersama. Alun-alun yang seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak dan keluarga, justru dijadikan sasaran amuk.
Gelombang kecaman pun meledak. Warga menilai aksi ini sudah melampaui batas kewajaran dan tidak bisa lagi ditoleransi.
“Ini bukan demo, ini perusakan. Kalau seperti ini, aparat harus tegas. Tangkap dan proses hukum,” tegas salah satu warga.
Desakan keras kini mengarah kepada aparat penegak hukum agar tidak ragu bertindak. Identifikasi pelaku, usut tuntas, dan beri sanksi tegas tanpa pandang bulu menjadi tuntutan utama masyarakat.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang terkait siapa dalang di balik aksi perusakan tersebut. Namun publik menegaskan, diam bukan lagi pilihan.
Peristiwa ini menjadi peringatan keras: kebebasan berpendapat bukan tameng untuk bertindak anarkis. Ketika aksi berubah menjadi perusakan, maka yang lahir bukan perjuangan—melainkan kebiadaban yang mencoreng nama daerah sendiri. ( Amex






