Lebaran di Tengah Gejolak Global: Antara Euforia dan Kerapuhan Ekonomi

KopiBangbul35 Views
Read Time:4 Minute, 22 Second

LEBARAN seharusnya menjadi momentum kebahagiaan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, suasana itu terasa semakin “mahal”. Harga kebutuhan pokok naik, daya beli masyarakat tertekan, dan di saat yang sama, ketidakpastian global terus menghantui.

Kondisi ini bukan sekadar fenomena musiman. Ada persoalan yang lebih dalam: ketahanan ekonomi kita masih rentan terhadap guncangan eksternal.

Setiap menjelang Lebaran, pola yang sama terus berulang. Harga pangan merangkak naik, distribusi terganggu, dan pemerintah terkesan hanya hadir dengan solusi jangka pendek seperti operasi pasar. Ini bukan solusi struktural, melainkan sekadar “pemadam kebakaran” yang datang saat api sudah membesar.

Padahal, persoalan utamanya terletak pada lemahnya sistem distribusi dan ketergantungan pada pasokan tertentu. Selama akar masalah ini tidak dibenahi, maka setiap Lebaran akan selalu diwarnai keresahan yang sama.

Lebih jauh lagi, kita tidak bisa menutup mata terhadap dampak situasi geopolitik internasional. Konflik global yang berkepanjangan telah memicu kenaikan harga energi dan mengganggu rantai pasok dunia. Negara-negara besar saling berebut pengaruh, sementara negara berkembang seperti Indonesia hanya menjadi “penonton” yang ikut menanggung dampaknya.

Pertanyaannya, sampai kapan kita akan terus berada dalam posisi reaktif?

Ketergantungan pada dinamika global tanpa diimbangi penguatan ekonomi domestik adalah kelemahan serius. Ketika harga minyak dunia naik, kita ikut goyah. Ketika distribusi global terganggu, kita ikut panik. Ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi nasional belum cukup kokoh.

Lebaran memang mampu mendongkrak konsumsi. Perputaran uang meningkat, sektor UMKM bergerak, dan ekonomi daerah menggeliat. Namun, kita juga harus jujur bahwa ini hanya bersifat sementara. Setelah Lebaran usai, realitas kembali: daya beli melemah, harga tetap tinggi, dan tekanan ekonomi kembali dirasakan masyarakat.

Karena itu, momentum Lebaran seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai perayaan, tetapi juga sebagai refleksi. Bahwa kita membutuhkan kebijakan ekonomi yang lebih berani, lebih terstruktur, dan tidak sekadar reaktif.

Pemerintah harus mulai membangun ketahanan pangan yang kuat, sistem distribusi yang efisien, serta kemandirian energi. Tanpa itu, setiap gejolak global akan terus menjadi ancaman yang berulang.

Lebaran tahun ini tidak lagi sekadar soal tradisi dan kebahagiaan. Ia datang di tengah situasi global yang memanas—perang terbuka antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat—yang dampaknya langsung merembet ke dapur rakyat Indonesia.

Masalahnya, di saat dunia sedang bergejolak, kita justru melihat respons pemerintah yang terkesan normatif, hati-hati berlebihan, bahkan cenderung lamban membaca dampak nyata di dalam negeri.

Perang di Timur Tengah bukan sekadar konflik jauh di sana. Ini adalah pemicu krisis ekonomi global yang nyata. Harga minyak melonjak, rantai pasok terganggu, dan nilai tukar rupiah tertekan. Bahkan Bank Indonesia sendiri mengakui ruang kebijakan semakin sempit akibat tekanan global ini.

Lebih jauh lagi, tekanan terhadap rupiah dan inflasi bukan sekadar teori. Ini sudah terjadi. Arus modal terganggu, biaya impor naik, dan pada akhirnya rakyat kecil yang harus menanggung beban paling besar.

Ironisnya, respons pemerintah masih berkutat pada pendekatan klasik: menahan harga, melakukan efisiensi anggaran, dan berharap situasi global segera reda. Bahkan opsi yang disiapkan adalah pemotongan belanja negara jika harga minyak terus naik.

Pertanyaannya sederhana: Apakah negara hanya akan terus “bertahan”, tanpa strategi besar untuk keluar dari ketergantungan global?

Lebih mengkhawatirkan lagi, jika harga minyak dunia terus meroket, defisit anggaran berpotensi jebol melewati batas aman.
Ini bukan sekadar angka—ini ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi nasional.

Diam di Tengah Ketegangan Global

Dari sisi geopolitik, Indonesia dikenal dengan politik luar negeri bebas aktif. Namun dalam konflik besar seperti ini, publik justru melihat sikap yang terasa tidak cukup tegas dan kurang berpengaruh.

Di satu sisi, Indonesia selalu lantang mendukung Palestina. Tapi ketika eskalasi meluas menjadi perang Iran vs Israel-AS, posisi Indonesia tampak berjalan di tempat—tidak punya daya tekan diplomatik yang signifikan di panggung global.

Padahal, dunia sedang berubah. Konflik ini bukan lagi regional, tapi sudah menyentuh kepentingan global: energi, keamanan, hingga ekonomi.

Jika Indonesia hanya menjadi “pengamat aktif”, maka konsekuensinya jelas: kita hanya akan menjadi korban dampak, bukan pemain yang menentukan arah.

Rakyat Menanggung, Negara Reaktif

Yang paling terasa tentu di level bawah. Menjelang Lebaran:

harga bahan pokok naik

biaya transportasi meningkat

daya beli melemah

Semua ini bukan semata faktor domestik, tapi efek domino dari perang global yang tidak diantisipasi secara serius.

Kita terus mengulang pola yang sama:
ketika krisis datang → pemerintah reaktif → rakyat menyesuaikan sendiri

Tidak ada lompatan kebijakan yang benar-benar berani:

kemandirian energi masih jauh dari harapan

ketahanan pangan belum kokoh

sistem distribusi masih rapuh

Padahal, tanpa itu semua, Indonesia akan terus menjadi negara yang mudah terguncang oleh konflik di luar wilayahnya sendiri.

Lebaran: Euforia di Atas Kerapuhan

Lebaran memang tetap akan menghadirkan perputaran uang. Ekonomi akan tampak bergerak. Tapi ini hanyalah ilusi jangka pendek.

Setelah Lebaran usai, yang tersisa adalah realitas:

harga tetap tinggi

tekanan ekonomi belum hilang

ketidakpastian global masih berlanjut

Jika perang ini berkepanjangan, maka kita harus siap menghadapi tekanan yang lebih besar—bukan hanya ekonomi, tapi juga stabilitas sosial.

Penutup: Saatnya Berhenti Sekadar Bertahan

Perang Iran–Israel–AS adalah ujian nyata.
Bukan hanya bagi dunia, tapi juga bagi keberanian negara dalam mengambil sikap.

Indonesia tidak cukup hanya:

menjaga stabilitas

mengeluarkan pernyataan normatif

atau menunggu situasi mereda

Yang dibutuhkan adalah arah kebijakan yang tegas, berani, dan berpihak pada kepentingan nasional jangka panjang.

Jika tidak, maka setiap konflik global akan selalu berujung sama: rakyat kembali jadi pihak yang paling menderita.

Dan Lebaran, yang seharusnya membawa kebahagiaan, justru berubah menjadi pengingat—bahwa kita masih rapuh di tengah dunia yang semakin tidak pasti. (Red/FP)**

*) Penulis adalah : Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Indramayu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *