Kejadian di Venezuela harus menjadi pelajaran penting bagi bangsa Merah Putih tentang bagaimana proxy asing dan pengaruh kekuatan besar dapat mencoba menguasai sumber daya alam serta memengaruhi politik dalam negeri negara berdaulat.
Operasi militer Amerika Serikat yang menangkap Presiden Nicolás Maduro dan kemudian rencana mengontrol serta menjual cadangan minyak Venezuela menunjukkan bahwa konflik sering kali lebih dari sekadar retorika demokrasi atau penegakan hukum — ada kepentingan strategis terhadap sumber daya alam yang luar biasa besar yang diperebutkan di sana. Banyak negara mengkritik tindakan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional, serta upaya untuk menguasai sumber daya negara lain, Amerika yang mengklaim negara pencetus dan paling demokrasi dan sang penegak HAM Dunia telah mempertontonkan pengingkaran atas demokrasi dan HAM.
Berkaca dari Venezuela Bangsa Merah Putih harus tetap waspada terhadap proxy asing yang ingin melemahkan legitimasi pemerintahan Prabowo – Gibran secara masif dan sistematis memengaruhi opini publik, dengan propaganda dengan narasi provokatif dengan dalih demokrasi dan HAM.
Jangan sampai terjadi anak bangsa menjadi Proxy asing melalui (NGO dan Media) yang didanai asing hanya buat kegaduhan dan cenderung melemahkan dan menjatuhkan pemerintah ujungnya kekuatan asing besar bermain untuk mencari keuntungan dari sumber daya kita, baik itu melalui tekanan politik, propaganda, maupun intervensi terselubung.
Kedaulatan politik dan ekonomi Indonesia harus dijaga dengan strategi diplomasi cerdas, literasi informasi yang kuat, serta politik luar negeri bebas aktif, agar kita tidak menjadi seperti yang terjadi di Venezuela—di mana kepentingan asing mengambil peran dominan dalam menentukan arah dan masa depan bangsa.
(Bang Bul
