Lawan Hoaks Bukan Sekedar Bela Pemimpin, Tetapi Menjaga Akal Sehat Bangsa

KopiBangbul135 Views
Read Time:1 Minute, 7 Second

 

Hoaks bukanlah sekadar kabar bohong; ia adalah racun yang perlahan merusak cara berpikir masyarakat. Ketika hoaks dibiarkan berkembang, kebenaran menjadi kabur, logika tersisih, dan akal sehat ikut terkikis. Dalam konteks pejabat publik, hoaks sering dimanfaatkan sebagai senjata politik untuk menjatuhkan lawan. Namun, melawan hoaks bukan berarti membela pemimpin tertentu. Lebih dari itu, ini adalah upaya menjaga integritas informasi demi masa depan bangsa.

Di era media sosial, berita bohong menyebar jauh lebih cepat daripada fakta. Sayangnya, masyarakat sering lebih percaya pada kabar sensasional tanpa memeriksa kebenarannya. Hal ini berbahaya karena dapat memicu kebencian, polarisasi, bahkan perpecahan. Saat kita membiarkan hoaks merajalela, yang menjadi korban bukan hanya pemimpin atau pejabat publik, melainkan kita semua. Kepercayaan terhadap sistem pemerintahan dan persatuan bangsa ikut runtuh.

Melawan hoaks berarti berani menegakkan kebenaran, memverifikasi informasi, dan menolak menjadi penyebar kebohongan. Ini bukan tentang siapa yang berkuasa, tapi tentang menjaga nilai keadilan dan kejujuran. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang kritis, yang mampu membedakan fakta dari fitnah, serta menolak manipulasi informasi.

Kita semua punya peran dalam memerangi hoaks. Dengan satu klik, kita bisa memilih untuk menyebarkan kebenaran atau justru memperbesar kebohongan. Jika kita ingin negara ini maju, maka kita harus memulai dari akal sehat kita sendiri: berpikir jernih, menilai dengan rasional, dan tidak mudah diprovokasi.

Karena pada akhirnya, melawan hoaks adalah melindungi akal sehat bangsa.

Penulis

Bangbul ( Pemerhati sosial )

Leave a Reply